Manusia adalah makhluk atau ciptaan Tuhan yang paling mulia. Ia dibekali dengan kejadian yang sempurna yang tidak ada yang menyamainya di muka bumi ini. Akal dan Pikiran menjadi pembeda antara dia dengan makhluk lainnya terutama sesama makhluk hidup dari kategori hewani. Sama-sama memiliki bentuk fisik, berkembang biak, insting mempertahankan diri, berkelompok, hingga memenuhi kebutuhannya. Tapi manusialah yang dikatakan paling sempurna diantara makhluk lainnya. Ya, karena makhluk manusia dianugerahi akal, budi dan daya. Sungguh, manusia telah diciptakan oleh Allah Swt dalam kejadian yang paling sempurna dan kuat.
Allah Azza wajalla berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Tien (QS:95 - 4) yang artinya ;
... "sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"
Bentuk yang baik dan sempurna karena misi kerasulan hanya diberikan kepada makhluk yang namanya 'manusia'. Bukan kepada makhluk lainnya. Padahal, jika Allah Swt berkehandak, bisa saja misi kerasulan yang mengantarkan wahyu dariNYA kepada para Nabi dan Rasul diberikan kepada makhluk lainnya, Malaikat misalnya.
Berbicara misi kerasulan, sejak diutusnya Nabi Adam as, hingga Nabi Muhammad SAW, bukankah di dalamnya mengandung 'pendidikan dan pengajaran'? Kitab suci Al-Qur'an yang diwahyukan kepada Nabi dan Rasul paling akhir, Muhammad SAW, di dalamnya berisi bukan hanya tuntunan dan ajakan untuk mengesakan [tauhid] terhadap Allah Swt, melainkan juga mengandung ajaran dan pelajaran-pelajaran yang harus digunakan serta dijalankan oleh para manusia.
Di dalam kitab suci itu diajarkan bagiamana menjalani hidup antara manusia dengan Penciptanya dan antara manusia dengan makhluk lainnya. Manusia tidak diajarkan untuk hanya berbuat baik terhadap sesama manusia, melainkan pula untuk menjaga keharmonisan dengan alam sekitar dan makhluk-makhluk lainnya meskipun berupa hewan. Sangat tidak dianjurkan dalam tuntunan Al-Qur'an untuk merusak hubungan baik antar manusia dengan manusia maupun antar manusia dengan yang lainnya termasuk alam sekitar.
Jika demikian, jelas sekali hubungan antara 'kerasulan' dengan 'pendidikan', Bedanya adalah bahwa kerasulan hanya diberikan kepada manusia-manusia pilihan Allah Swt semata dan sudah ditutup misi kerasulan tersebut dengan diutusnya Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Muthalib SAW. Tidak ada Nabi atau Rasul setelah beliau SAW. Sedangkan 'pendidikan' diberikan untuk semua manusia secara umum sejak jaman Nabi Adam As hingga akhir jaman. Agama mengandung pendidikan. Bahkan jika dianalisa sejak diutusnya Nabi Adam As, misi risalah yang dibawa saat itu, bukan hanya misi mengesakan -tauhid- terhadap Sang Khaliq, Allah Swt. Misi lainnya adalah bagaimana menjalin dan menjalankan roda kehidupan sosial saat itu. Terjadinya pernikahan antar putera-puterinya (Qabil dan Habil) ketika itu menjadi indikasi bahwa tatanan sosial mulai dibangun. Lingkungan masyarakat mulai terbentuk dengan berkembangnya keturunan Nabi Adam As ke berbagai pelosok penjuru dunia.
Perkembangan jaman yang diakibatkan oleh penyebaran umat manusia, pasti didalamnya ada faktor pendidikan dan pengajaran. Seiring dengan perkembangan jaman pula, berbagai kemajuan di bidang ilmu-ilmu pengetahuan terus menunjukan kemajuan. Begitu seterusnya hingga saat kini, bahkan hingga saat besok tanpa kita tahu akhir waktu dunia ini.
Tatanan yang diciptakan seiring dengan perkembangan ilmu dan pengetahuan, beberapa tahun yang lalu sempat dipisah-pisahkan dari aspek ilmu agama. Dikatakan waktu itu bahwa Agama dengan Ilmu Pengetahuan itu dua sisi yang berbeda dan tanpa korelasi. Agama -saat itu- hanya menjadi simbol penyembahan kepada Sang Maha Pencipta. Berbicara agama adalah berbicara ibadah. Itulah persepsi yang terbangun kala itu. Persepsi yang memisahkan antara Agama dengan Ilmu Pengetahuan. Hal demikian tidak berlaku lagi untuk saat ini dimana Agama [Ilmu Agama] dengan Ilmu Pengetahuan dijadikan satu paket untuk dipelajari oleh seluruh siswa dan manusia.
Penanaman karakter [akhlak] ternyata didominasi oleh pelajaran agama. Ketika Ilmu Pengetahuan tidak mampu membekali para pelajarnya dengan 'karakter mulia', Ilmu Agama lah yang dikedepankan. Dekadensi dan merosotnya moral anak manusia karena tipisnya Agama dan Keagamaan pada pribadinya. Bekal yang sangat mendasar ini dibebankan pada semata pelajaran agama. Mestinya, pelajaran-pelajaran yang lain pun, diiringi dan dibarengi dengan aspek-aspek penanaman 'karakter mulia'. Inilah yang memicu Kurikulum sekolah yang terus-menerus alami perubahan demi perbaikan. Dari Kurikulum cara belajar siswa aktif (CBSA) hingga Kurikulum KTSP dan Kurtilas [Kurikulum dua ribu tiga belas]. Smuanya dalam rangka membangun 'karakter anak bangsa' yang terpuji, kuat dan memiliki jati diri.
Pendidikan mesti mengandung pengajaran budi-pekerti. Pengajaran budi-pekerti tidak hanya diberikan di masjid-masjid ataupun surau dan musholla. Sekolah dan Madrasah juga diberi tugas untuk mampu menanamkan karakter mulia pada anak didiknya. Inilah situasi saat kini.
Jati diri sebuah bangsa terletak pada bagaimana kehidupan anak-anak mudanya.Ini karena masa depan sebuah kehidupan akan sangat tergantung pada bagaimana anak-anak kita mendapatkan ilmu pengetahuan khususnya pendidikan karakter. Di era satelit abad 21 ini, dunia informasi telah begitu dekatnya dengan para penggunanya. Setiap anak sudah sangat tidak asing dengan istilah 'googling' alias berselancar di dunia maya. Tidak perlu ke warnet lagi untuk googling, cukup duduk dengan handphone terbaru plus kuota internet, dimanapun informasi bisa diperoleh.
Kedekatan informasi serupa ini memberikan segala kemudahan untuk belajar jika digunakan sebagaimana mestinya. Ada kebaikan ada pula keburukannya. Kemudahan informasi ini jika tidak digunakan dengan benar dan pada jalur yang semestinya, akan menjadi 'perusak mentalitas' yang sangat merugikan. Baik secara individu maupun secara kolektif kemasyarakatan.
Inilah tantangan pendidikan di era digital dan satelit abad milenium. Proses belajar atau kegiatan belajar mengajar [KBM] akan sangat tertinggal jika tidak dipadukan dengan kemajuan teknologi informasi. Di sisi lain, kemudahan akses informasi melalui handphone misalnya, selain memberikan kemudahan belajar, ternyata 'side effect' atau efek samping dari serba mudah dalam informasi ini membuat anak-anak pelajar kurang minat jika tidak dikatakan 'malas' untuk belajar. Tugas dari guru untuk mengerjakan pekerjaan rumah, apalagi pelajaran bahasa inggris, dikerjakan dengan bantuan 'google translate'. Akibatnya, mereka 'kurang mampu' untuk mengerjakannya sendiri. Padahal proses belajar itu 'untuk mengasah kemampuan IQnya'. Jika seperti ini penggunaan alat teknologi oleh para pelajar, bagaimana jika mereka tidak memiliki akses internet?
Google Translate dibuat memang untuk memberikan kemudahan. Terutama kemudahan dalam penterjemahan. Tetapi sudah barang pasti jika salah dalam penggunaannya, para pelajar tidak akan memiliki 'kemampuan mengolah kata' [dalam bidang bahasa]. Apalagi jika tidak dibarengi dengan penanaman karakter untuk tetap belajar secara mandiri. Bukan salah Google Translate, bukan pula salah kemajuan teknologi. Yang salah adalah pola guna dan sikap para pengguna internet. Tidak sedikit para pelajar yang mampu menorehkan prestasi tingakat dunia berbekal kemampuan yang didapat dari internet.
Sekali lagi, tidak perlu kita mencari kambing hitam dari kemajuan teknologi. Tidak perlu menyalahkan sepihak dengan adanya akses internet. Mari kita bersama-sama untuk mendampingi dan mengawasi generasi kita dalam menggunakan alat komunikasi seperti handphone agar mereka tidak salah dalam memakainya. Agar mereka tidak salah dalam membangun jati dirinya, dan pada akhirnya agar karkater mereka tidak teracuni sisi negatif kemudahan akses informasi global.
Mari kita bangun pendidikan dengan memadankan dengan misi kerasulan yang dilaksanakan oleh para Nabi dan Rasul Allah subhaanahu wa ta'ala. Keberhasilan dan kesuksesan dunia dan akherat, itulah misi yang diemban oleh para utusan Allah azza wa jalla. Semoga generasi kita menjadi generasi milenium yang tidak meninggalkan Tuhannya, tidak durhaka pada orang tuanya, tidak merusak lingkungannya. Amin
Untuk menelaah kesenjangan sosial akibat kesenjangan pendidikan, silakan datang di alamat ini.
Untuk menelaah kesenjangan sosial akibat kesenjangan pendidikan, silakan datang di alamat ini.

0 Komentar
Silakan Berkomentar Di Sini